Penantian Yang Tak Berujung

Minggu, 10 November 2013



            Kota Malang yang biasanya dingin semakin dingin saja. Bagaimana tidak, sedari tadi butiran air dari langit turun dengan lebatnya menghujam kerasnya aspal jalanan kota terbesar kedua di provinsi Jawa Timur . Terlihat genangan air menghiasi jalanan berlubang di depan kafe bergaya koloni tepat di tengah kota. Di pojok kafe terlihat seorang cewek berhijab ungu, berperawakan tinggi 165cm, berkulit sawo matang khas perempuan Indonesia tengah menikmati cokelat panas yang dipesannya sekitar 5 menit yang lalu dari waitress yang berpakain khas hitam putih tersebut. Yute, mahasiswi salah satu PTN di kota Malang terlihat tengah menunggu temannya, sesekali dia melirik jam dinding kafe yang kali ini tepat menunjukkan pukul delapan malam. Sudah satu jam dia menunggu temannya, Yute memutuskan untuk meninggalkannya. Ketika sedang menuju pintu kafe, dia dikejutkan oleh teriakan seorang cowok yang memanggil namanya “Yut.. yute.. yut” teriak cowok tersebut. Yute mencari sumber suara, hanya beberapa langkah dari Yute berdiri terlihat seorang cowok melambaikan tangannya dan melempar senyum manis yang meluluhkan hati cewek manis tersebut. Ternyata cowok tersebut teman semasa kecil Yute, Tyo.

            Tyo adalah teman semasa kecil Yute di kotanya, Bojonegoro. Mereka bertemu kembali setelah 15 tahun lamanya tak bertemu. Tyo dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Surabaya ketika Tyo hendak masuk sekolah dasar. Mereka saling bernostalgia, mengingat semua kenangan indah dan pahit semasa taman kanak-kanak. Masa dimana mereka mulai memiliki dan memahami sejumlah besar kosa kata. Tyo masih ingat bagaimana wajah Yute ketika dia menggodanya, wajah cemberut gadis kecil yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Yute juga ingat bagaimana jahilnya Tyo kepadanya, tapi dibalik kejahilannya Yute tau jika Tyo selalu melindunginya dari teman-temannya yang nakal. Tak terasa mereka sudah bernostalgia selama dua jam lamanya. Tyo berpamitan untuk pulang kekotanya malam itu juga dan berjanji untuk menemui Yute lagi.

Semenjak saat itu hubungan antara Yute dan Tyo semakin dekat. Mereka saling berkirim pesan, menceritakan kegiatan masing-masing ntah itu kegiatan kampus maupun diluar kampus. Tak lupa mereka saling memberikan perhatian masing-masing layaknya pasangan kekasih yang tengah kasmaran. Tapi di lain hal, hubungan mereka tak lebihnya sebatas teman. Teman semasa kecil yang sekarang dipertemukan oleh waktu dan keadaan.Sore itu, Yute sedang hanyut menyelami kata-kata di dalam novelnya Dee Lestari tiba-tiba dikagetkan dengan bunyi ringtone pesan singkat dari smartphonenya. “Yut, minggu ini kamu sibuk ngga? Kalo free aku tunggu di Surabaya. Aku ga bisa ke Malang, nanti aku jemput di terminal.” Ternyata itu sms dari Tyo, dia ingin Yute pergi menemuinya karena dia sibuk dengan tugas-tugas kampusnya. “Minggu ini aku free, yaudah sabtu pagi aku berangkat (: Jaga kesehatanmu jangan terlalu capek.” Beberapa menit kemudian pesan singkat tersebut masuk ke ponsel Tyo. Dia membaca pesan tersebut dengan senyuman khasnya. Senyuman manis yang selalu meluluhkan hati wanita disekitarnya.

Hari-hari menginjak keberangkatannya ke Surabaya, Yute merasakan ada yang berbeda dengan Tyo. Tyo yang selama ini tak pernah telat untuk mengirim pesan atau menelpon Yute, tiba-tiba dia berubah. Kini untuk menanyakan kabar saja Yute harus mengirim pesan terlebih dahulu itupun terkadang tidak di balas oleh Tyo.
“Tyo sebenarnya kemana sih?” tanyanya sambil mengitari kamar indekostnya yang berukuran 4x5 meter tersebut.
“Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.” Terdengar suara perempuan yang di kenal sebagai Veronica menjawab telepon Yute.
“Aish... kemana sih Tyo ini? Membuat orang panik aja sih!” umpat Yute sambil membanting smartphonenya ke atas karpet wol berwarna hijau tersebut.
Tiba-tiba saja dia ingat sesuatu, digapainya gadget berwarna putih yang ada disebelah novel yang berserakan di atas kasurnya. Diketiknya beberapa huruf hingga membentuk satu kata ‘Facebook’. Dia tak kehabisan ide, dicarinya Tyo melalui jejaring sosial yang sangat terkenal itu. Budi Prasetyo Yess ketemuu..” gumamnya dalam hati. Tanpa diberi komando Yute segera mencari informasi di akun pribadi milik Tyo. Setelah beberapa menit dia mencari kepastian, diketahuinya mengapa Tyo akhir-akhir ini berubah. Ternyata dia ditunjuk untuk mewakili universitasnya dalam ajang kontes nasional beberapa bulan lagi. Oleh karena itu Tyo sibuk untuk mempersiapkan kontes tersebut, dan dia lupa tak memberi kabar bahkan menceritakan kabar bahagia ini pada Yute. Keesokan harinya Tyo mengirimkan pesan singkat permintaan maafnya pada Yute.
“Yut, maaf aku akhir-akhir ini ga sms kamu. Aku sibuk dengan kegiatan kampus. Aku ditunjuk untuk mewakili kampus. Tapi tetep aku tunggu kamu di Surabaya J
“Oke. Jaga kesehatanmu, sampai ketemu di Surabaya J” balas Yute.
           
Hari yang dinanti-nanti mereka berdua tiba. Pagi-pagi sekali Yute sudah bersiap keterminal Arjosari di antar oleh sang sahabat, Nina. Gadis bertubuh kecil imut, berkulit putih, berlesung pipi tersebut adalah sahabat Yute sejak di semester satu. Dia satu-satunya sahabat terdekat Yute, oleh karena itu Yute tak segan-segan untuk menceritakan Tyo pada Nina.
“Yut, kamu beneran nggak mau kasih tau Tyo tentang perasaanmu” Nina membuka percakapan.
“Kok kamu tanya gitu nin? Untuk saat ini biar aku dan kamu aja yang tau. Tyo ga perlu tau dulu. Aku udah nyaman dengan semua ini”
“Tapi kan yut,, lebih enak lagi kalo Tyo tau gimana perasaanmu saat ini.”
“Aku nggak mau hubungan yang terjalin baik ini, tiba-tiba hancur begitu aja. Aku nggak mau kehilangan Tyo lagi nin.” curhat Yute
Ternyata Yute selama ini memendam perasaannya pada Tyo. Perasaan yang bukan hanya sebatas sebagai teman semasa kecil, sahabat, atau bahkan sebagai kakak.
“Yaudah yut, kamu hati-hati ya. Sesampainya di Surabaya kamu sms aku ya” pesan Nina.
“Oke nin, makasih udah mau anterin aku.”

            Di dalam bus yang melaju kencang membelah jalanan kota Malang – Surabaya, Yute mengirimkan sebuah pesan kepada Tyo.
“Yo, aku udah di jalan menuju Surabaya. 45 menit lagi nyampek, tunggu aku diterminal yaa” dikirimnya pesan tersebut ke ponsel Tyo.
10 menit berlalu, tak ada balasan dari Tyo.
20 menitpun berlalu, tak ada balasan daro Tyo.
“Aku udah hampir nyampek. Kamu udah di terminal kan?” Yute mengirimkan sms lagi kepada Tyo.
15 menit kemudian bus yang ditumpangi oleh Yute sampai di terminal Purabaya, terminal yang selalu ramai setiap harinya. Yute mencari-cari keberadaan dimana kira-kira Tyo menunggunya, tapi tak ditemuinya sosok yang dirindukannya tersebut.
20 menit berlalu. Akhirnya Yute memutuskan untuk menelepon Tyo.
“Tuuutttt... tuuuttt... ttuuuttt” terdengar bunyi nada sambung.
“Halo.. assalammualaikum, Tyo kamu dimana?? Aku udah di terminal ini. Nungguin kamu hampir setengah jam!” tanya Yute.
“Waalaikumsalam, maaf Yute tiba-tiba aku ada kegiatan di kampus yang nggak bisa aku tinggal. Aku harus mempersiapkan kontes robotku.  Aku nggak bisa jemput kamu. Maaf ya, kamu ke rumah saudaramu dulu nanti aku jemput di sana, gimana?” tanya Tyo
“Oh gitu, kenapa kamu enggak kasih tau aku dulu tadi sebelum berangkat ke Surabaya? Tau gitu aku bisa berangkat sore aja. Aku udah nunggu kamu setengah jam baru ada kabar, kemana aja kamu dari tadi?” Yute marah.
“tutt..tuttt..tuttt.. haloo halooo Tyoo .. Tyoo”
Tiba-tiba Tyo memutuskan hubungan telepon tersebut. Tak habis pikir Yute menelepon kembali Tyo, tapi ponsel Tyo malah mati. Karena amarah yang terlalu besar terhadap Tyo, dia memutuskan untuk kembali ke Malang.

            Sesampainya di Malang, Yute langsung mengurung diri di kamar. Dia menangis sesenggukan menyesali kebodohannya. Diraihnya ponsel yang tergeletak di samping boneka rilakkumanya.
“Nin temenin aku. Aku sekarang di kost. Aku enggak jadi ketemu Tyo” dikirimnya pesan singkat tersebut pada sahabatnya.
“Kamu kenapa?? Oke 15 menit lagi aku meluncur.”
20 menit kemudian terdengar bunyi seseorang mengetok pintu kamar Yute.
“Masuk nin” teriak Yute dari dalam.
“Kamu kenapa yut? Kok enggak jadi ketemu sama Tyo??” tanya Nina
“Aku tadi udah di terminal, udah aku tunggu Tyo hampir setengah jam. Eh ternyata dia bilang gak bisa jemput aku. Katanya dia ada kegiatan dikampus” cerita Yute.
“Ooh begitu, sabar ya Yut. Udah dong kamu jangan nangis. Mungkin aja Tyo lagi sibuk-sibuknya. Kamu bilang sendiri kan kalo dia mau ikut kontes robot nasional” Nina mencoba menenangkan Yute
“Iya aku tau, tapi harusnya dia ngomong dulu dong sebelum aku pergi ke Surabaya. Aku bodoh ya nin?? Ngebelain buat pergi ke Surabaya demi ketemu dia??”
“Enggak kok yut, kamu gak bodoh. Hanya saja waktu tak mengizinkan kamu untuk bertemu dengan Tyo” nasehat Nina.
Nina menenangkan sahabatnya itu, tetapi hatinya sangat bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya. Diam-diam Nina menyimpan rasa terhadap Tyo, teman sahabatnya sendiri. Tapi dia tahu, dia menyimpan sebuah kesalahan karena menikam temannya sendiri dari belakang.

            Nina pertama kali bertemu dengan Tyo saat dia menghadiri acara ulang tahun temannya semasa SMA di sebuah kafe di Kota Surabaya dua minggu yang lalu. Dia diperkenalkan secara langsung oleh temannya,Lena dengan Tyo. Cowok yang mempunyai tubuh atletis dengan tinggi 178 cm berkulit putih itu secara tak langsung menarik perhatian Nina. Maklum saja, Nina baru putus dengan pacarnya sekitar sebulan yang lalu karena pacarnya ketahuan selingkuh. Nina tidak tau jika Tyo adalah teman dari sahabatnya sendiri, Yute. Begitu pula dengan Tyo.
“ Kamu kuliah Nin?” tanya Tyo basa basi sambil mencuri pandang.
“ Iya Yo, kamu juga kah?” Nina menanya balik Tyo.
“ Iya. Aku ambil teknik  elektro, kalo kamu?”
“ Aku ambil kedokteran gigi. Oh ya, sekarang lagi sibuk apa?”  tanya Nina
“ Aku lagi sibuk persiapan buat kontes robot di Bandung nih”
 “ Waaah, hebat dong bisa mewakili kampus.” salut Nina
Mereka pun saling mengobrol tentang kuliah, organisasi, dan masih banyak lagi. Hingga mereka saling bertukar nomor handphone. Ternyata, hubungan perkenalan mereka tak berhenti sampai disitu saja. Mereka saling menjaga komunikasi hingga suatu hari Tyo pergi ke Malang untuk bertemu dengan Nina.

            Sore itu di tengah sepinya perumahan mewah, terdengar suara deru motor sport yang berhenti di depan sebuah rumah indekost. Nina yang kamarnya terletak di lantai dua dengan terburu-buru menuruni tangga ketika ponsel yang dipegangnya sedari tadi berdering. Ternyata tamu tersebut Tyo. Tyo tau alamat indekostnya Nina dengan bertanya pada Lena. Tyo juga tahu bahwa Nina dan Yute bersahabat. Oleh karena itu Tyo meminta bantuan Nina untuk meminta maaf pada Yute. Hubungan Yute belom membaik sejak minggu lalu, Tyo tidak bisa menjemputnya karena dia ada kegiatan dikampus.
“Nin, aku kesini untuk meminta tolong kamu.”
“Minta tolong apa Yo?” tanya Nina
“Aku tahu dari Lena kalau kamu sahabatan sama Yute. Dan aku udah melakukan kesalahan padanya. Aku ingin minta maaf sama dia” ungkap Tyo panjang lebar.
“Em..gitu ya.. Tapi sepertinya dia udah enggak mau maafin kamu deh Yo” Nina mempengaruhi Tyo.
“Masak Yute kayak gitu? Aku tahu dia, bagaimana sifat dia”
“Beneran Yo, dia pernah bilang ke aku, kalau dia udah enggak bakalan maafin kamu.”
Tampak raut muka Tyo yang tak seperti biasanya. Wajah riangnya berubah menjadi tak bergairah.
“Kamu kenapa Yo?” tanya Nina sok khawatir.
“Aku gapapa kok” jawabnya singkat.
“Yaudah kita ke kafe yuk. Kita tenangin pikiran kamu dulu” Nina mengajak Tyo ke kafe dimana dia biasa nongkrong dengan Yute dan dimana dulu Tyo bertemu dengan Yute pertama kalinya. Seperti ada maksud tersembunyi yang coba disampaikan oleh Nina sore itu.

            Yute dan temannya Kiky, tengah asyik menikmati indahnya Kota Malang di sore yang cerah. Mereka berdua terlihat asyik mengobrol dan sesekali diikuti tawa renyah khas kedua teman tersebut. Tiba-tiba Yute meliar sesosok cowok yang sangat dikenalnya. Cowok itu datang menggandeng seorang cewek. Bukan. Ternyata si ceweklah yang menggandeng cowok tersebut. Dan betapa terkejutnya Yute, ketika siapa yang dilihatnya itu. Ya, benar. Cowok itu adalah Tyo, teman semasa kecil yang ditaksirnya diam-diam. Dan cewk itu adalah Nina, sahabat karibnya sendiri yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Yute yang sebelumnya terlihat riang, kini raut wajahnya berubah 180 derajat. Terlihat genangan air mata yang siap mengalir deras di pipi halusnya. Dikumpulkannya semua keberanian, didatangi dan digebraknya meja dimana Nina dan Tyo tengah bermesraan.
“Kalian jahat, kalian tega. Aku benci kalian” ujarnya penuh emosi.
Tak banyak kata-kata yang mampu diucapkanYute. Butiran air mata yang dibendungnya itu pun menetes dengan deras di pipi merahnya, diiringi suara petir menggelegar menyentuh tanah yang bermandikan oleh air hujan. Kota Malang di guyur hujan lebat, seakan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Yute saat ini.

Malang, 01 November 2013

Riski Permatasari

0 komentar:

Posting Komentar