Kota Malang yang biasanya dingin
semakin dingin saja. Bagaimana tidak, sedari tadi butiran air dari langit turun
dengan lebatnya menghujam kerasnya aspal jalanan kota terbesar kedua di
provinsi Jawa Timur . Terlihat genangan air menghiasi jalanan berlubang di depan
kafe bergaya koloni tepat di tengah kota. Di pojok kafe terlihat seorang cewek
berhijab ungu, berperawakan tinggi 165cm, berkulit sawo matang khas perempuan
Indonesia tengah menikmati cokelat panas yang dipesannya sekitar 5 menit yang
lalu dari waitress yang berpakain khas hitam putih tersebut. Yute, mahasiswi
salah satu PTN di kota Malang terlihat tengah menunggu temannya, sesekali dia
melirik jam dinding kafe yang kali ini tepat menunjukkan pukul delapan malam.
Sudah satu jam dia menunggu temannya, Yute memutuskan untuk meninggalkannya.
Ketika sedang menuju pintu kafe, dia dikejutkan oleh teriakan seorang cowok yang
memanggil namanya “Yut.. yute.. yut” teriak cowok tersebut. Yute mencari sumber
suara, hanya beberapa langkah dari Yute berdiri terlihat seorang cowok
melambaikan tangannya dan melempar senyum manis yang meluluhkan hati cewek
manis tersebut. Ternyata cowok tersebut teman semasa kecil Yute, Tyo.
Tyo adalah teman semasa kecil Yute
di kotanya, Bojonegoro. Mereka bertemu kembali setelah 15 tahun lamanya tak
bertemu. Tyo dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Surabaya ketika Tyo
hendak masuk sekolah dasar. Mereka saling bernostalgia, mengingat semua
kenangan indah dan pahit semasa taman kanak-kanak. Masa dimana mereka mulai
memiliki dan memahami sejumlah besar kosa kata. Tyo masih ingat bagaimana wajah
Yute ketika dia menggodanya, wajah cemberut gadis kecil yang sudah dianggap
sebagai adiknya sendiri. Yute juga ingat bagaimana jahilnya Tyo kepadanya, tapi
dibalik kejahilannya Yute tau jika Tyo selalu melindunginya dari teman-temannya
yang nakal. Tak terasa mereka sudah bernostalgia selama dua jam lamanya. Tyo
berpamitan untuk pulang kekotanya malam itu juga dan berjanji untuk menemui Yute
lagi.
Semenjak saat itu hubungan antara Yute dan Tyo semakin
dekat. Mereka saling berkirim pesan, menceritakan kegiatan masing-masing ntah
itu kegiatan kampus maupun diluar kampus. Tak lupa mereka saling memberikan
perhatian masing-masing layaknya pasangan kekasih yang tengah kasmaran. Tapi di
lain hal, hubungan mereka tak lebihnya sebatas teman. Teman semasa kecil yang
sekarang dipertemukan oleh waktu dan keadaan.Sore itu, Yute sedang hanyut
menyelami kata-kata di dalam novelnya Dee Lestari tiba-tiba dikagetkan dengan
bunyi ringtone pesan singkat dari smartphonenya. “Yut, minggu ini kamu sibuk
ngga? Kalo free aku tunggu di Surabaya. Aku ga bisa ke Malang, nanti aku jemput
di terminal.” Ternyata itu sms dari Tyo, dia ingin Yute pergi menemuinya karena
dia sibuk dengan tugas-tugas kampusnya. “Minggu ini aku free, yaudah sabtu pagi
aku berangkat (: Jaga kesehatanmu jangan terlalu capek.” Beberapa menit
kemudian pesan singkat tersebut masuk ke ponsel Tyo. Dia membaca pesan tersebut
dengan senyuman khasnya. Senyuman manis yang selalu meluluhkan hati wanita
disekitarnya.
Hari-hari menginjak keberangkatannya ke Surabaya, Yute
merasakan ada yang berbeda dengan Tyo. Tyo yang selama ini tak pernah telat
untuk mengirim pesan atau menelpon Yute, tiba-tiba dia berubah. Kini untuk
menanyakan kabar saja Yute harus mengirim pesan terlebih dahulu itupun
terkadang tidak di balas oleh Tyo.
“Tyo
sebenarnya kemana sih?” tanyanya sambil mengitari kamar indekostnya yang berukuran
4x5 meter tersebut.
“Nomer
yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.” Terdengar suara
perempuan yang di kenal sebagai Veronica menjawab telepon Yute.
“Aish...
kemana sih Tyo ini? Membuat orang panik aja sih!” umpat Yute sambil membanting
smartphonenya ke atas karpet wol berwarna hijau tersebut.
Tiba-tiba
saja dia ingat sesuatu, digapainya gadget berwarna putih yang ada disebelah
novel yang berserakan di atas kasurnya. Diketiknya beberapa huruf hingga
membentuk satu kata ‘Facebook’. Dia tak kehabisan ide, dicarinya Tyo melalui
jejaring sosial yang sangat terkenal itu. Budi
Prasetyo “Yess ketemuu..”
gumamnya dalam hati. Tanpa diberi komando Yute segera mencari informasi di akun
pribadi milik Tyo. Setelah beberapa menit dia mencari kepastian, diketahuinya
mengapa Tyo akhir-akhir ini berubah. Ternyata dia ditunjuk untuk mewakili
universitasnya dalam ajang kontes nasional beberapa bulan lagi. Oleh karena itu
Tyo sibuk untuk mempersiapkan kontes tersebut, dan dia lupa tak memberi kabar
bahkan menceritakan kabar bahagia ini pada Yute. Keesokan harinya Tyo
mengirimkan pesan singkat permintaan maafnya pada Yute.
“Yut,
maaf aku akhir-akhir ini ga sms kamu. Aku sibuk dengan kegiatan kampus. Aku
ditunjuk untuk mewakili kampus. Tapi tetep aku tunggu kamu di Surabaya J”
“Oke.
Jaga kesehatanmu, sampai ketemu di Surabaya J” balas Yute.
Hari yang dinanti-nanti mereka berdua tiba. Pagi-pagi
sekali Yute sudah bersiap keterminal Arjosari di antar oleh sang sahabat, Nina.
Gadis bertubuh kecil imut, berkulit putih, berlesung pipi tersebut adalah
sahabat Yute sejak di semester satu. Dia satu-satunya sahabat terdekat Yute,
oleh karena itu Yute tak segan-segan untuk menceritakan Tyo pada Nina.
“Yut,
kamu beneran nggak mau kasih tau Tyo tentang perasaanmu” Nina membuka
percakapan.
“Kok
kamu tanya gitu nin? Untuk saat ini biar aku dan kamu aja yang tau. Tyo ga
perlu tau dulu. Aku udah nyaman dengan semua ini”
“Tapi
kan yut,, lebih enak lagi kalo Tyo tau gimana perasaanmu saat ini.”
“Aku
nggak mau hubungan yang terjalin baik ini, tiba-tiba hancur begitu aja. Aku
nggak mau kehilangan Tyo lagi nin.” curhat Yute
Ternyata
Yute selama ini memendam perasaannya pada Tyo. Perasaan yang bukan hanya
sebatas sebagai teman semasa kecil, sahabat, atau bahkan sebagai kakak.
“Yaudah
yut, kamu hati-hati ya. Sesampainya di Surabaya kamu sms aku ya” pesan Nina.
“Oke
nin, makasih udah mau anterin aku.”
Di dalam bus yang melaju kencang
membelah jalanan kota Malang – Surabaya, Yute mengirimkan sebuah pesan kepada
Tyo.
“Yo,
aku udah di jalan menuju Surabaya. 45 menit lagi nyampek, tunggu aku diterminal
yaa” dikirimnya pesan tersebut ke ponsel Tyo.
10
menit berlalu, tak ada balasan dari Tyo.
20
menitpun berlalu, tak ada balasan daro Tyo.
“Aku
udah hampir nyampek. Kamu udah di terminal kan?” Yute mengirimkan sms lagi
kepada Tyo.
15
menit kemudian bus yang ditumpangi oleh Yute sampai di terminal Purabaya,
terminal yang selalu ramai setiap harinya. Yute mencari-cari keberadaan dimana
kira-kira Tyo menunggunya, tapi tak ditemuinya sosok yang dirindukannya
tersebut.
20
menit berlalu. Akhirnya Yute memutuskan untuk menelepon Tyo.
“Tuuutttt...
tuuuttt... ttuuuttt” terdengar bunyi nada sambung.
“Halo..
assalammualaikum, Tyo kamu dimana?? Aku udah di terminal ini. Nungguin kamu
hampir setengah jam!” tanya Yute.
“Waalaikumsalam,
maaf Yute tiba-tiba aku ada kegiatan di kampus yang nggak bisa aku tinggal. Aku
harus mempersiapkan kontes robotku. Aku nggak
bisa jemput kamu. Maaf ya, kamu ke rumah saudaramu dulu nanti aku jemput di
sana, gimana?” tanya Tyo
“Oh
gitu, kenapa kamu enggak kasih tau aku dulu tadi sebelum berangkat ke Surabaya?
Tau gitu aku bisa berangkat sore aja. Aku udah nunggu kamu setengah jam baru
ada kabar, kemana aja kamu dari tadi?” Yute marah.
“tutt..tuttt..tuttt..
haloo halooo Tyoo .. Tyoo”
Tiba-tiba
Tyo memutuskan hubungan telepon tersebut. Tak habis pikir Yute menelepon
kembali Tyo, tapi ponsel Tyo malah mati. Karena amarah yang terlalu besar
terhadap Tyo, dia memutuskan untuk kembali ke Malang.
Sesampainya di Malang, Yute langsung
mengurung diri di kamar. Dia menangis sesenggukan menyesali kebodohannya.
Diraihnya ponsel yang tergeletak di samping boneka rilakkumanya.
“Nin
temenin aku. Aku sekarang di kost. Aku enggak jadi ketemu Tyo” dikirimnya pesan
singkat tersebut pada sahabatnya.
“Kamu
kenapa?? Oke 15 menit lagi aku meluncur.”
20
menit kemudian terdengar bunyi seseorang mengetok pintu kamar Yute.
“Masuk
nin” teriak Yute dari dalam.
“Kamu
kenapa yut? Kok enggak jadi ketemu sama Tyo??” tanya Nina
“Aku
tadi udah di terminal, udah aku tunggu Tyo hampir setengah jam. Eh ternyata dia
bilang gak bisa jemput aku. Katanya dia ada kegiatan dikampus” cerita Yute.
“Ooh
begitu, sabar ya Yut. Udah dong kamu jangan nangis. Mungkin aja Tyo lagi
sibuk-sibuknya. Kamu bilang sendiri kan kalo dia mau ikut kontes robot
nasional” Nina mencoba menenangkan Yute
“Iya
aku tau, tapi harusnya dia ngomong dulu dong sebelum aku pergi ke Surabaya. Aku
bodoh ya nin?? Ngebelain buat pergi ke Surabaya demi ketemu dia??”
“Enggak
kok yut, kamu gak bodoh. Hanya saja waktu tak mengizinkan kamu untuk bertemu
dengan Tyo” nasehat Nina.
Nina
menenangkan sahabatnya itu, tetapi hatinya sangat bertolak belakang dengan apa
yang diucapkannya. Diam-diam Nina menyimpan rasa terhadap Tyo, teman sahabatnya
sendiri. Tapi dia tahu, dia menyimpan sebuah kesalahan karena menikam temannya
sendiri dari belakang.
Nina pertama kali bertemu dengan Tyo
saat dia menghadiri acara ulang tahun temannya semasa SMA di sebuah kafe di
Kota Surabaya dua minggu yang lalu. Dia diperkenalkan secara langsung oleh
temannya,Lena dengan Tyo. Cowok yang mempunyai tubuh atletis dengan tinggi 178
cm berkulit putih itu secara tak langsung menarik perhatian Nina. Maklum saja,
Nina baru putus dengan pacarnya sekitar sebulan yang lalu karena pacarnya
ketahuan selingkuh. Nina tidak tau jika Tyo adalah teman dari sahabatnya
sendiri, Yute. Begitu pula dengan Tyo.
“
Kamu kuliah Nin?” tanya Tyo basa basi sambil mencuri pandang.
“
Iya Yo, kamu juga kah?” Nina menanya balik Tyo.
“
Iya. Aku ambil teknik elektro, kalo
kamu?”
“
Aku ambil kedokteran gigi. Oh ya, sekarang lagi sibuk apa?” tanya Nina
“
Aku lagi sibuk persiapan buat kontes robot di Bandung nih”
“ Waaah, hebat dong bisa mewakili kampus.”
salut Nina
Mereka
pun saling mengobrol tentang kuliah, organisasi, dan masih banyak lagi. Hingga
mereka saling bertukar nomor handphone. Ternyata, hubungan perkenalan mereka
tak berhenti sampai disitu saja. Mereka saling menjaga komunikasi hingga suatu
hari Tyo pergi ke Malang untuk bertemu dengan Nina.
Sore itu di tengah sepinya perumahan
mewah, terdengar suara deru motor sport yang berhenti di depan sebuah rumah
indekost. Nina yang kamarnya terletak di lantai dua dengan terburu-buru
menuruni tangga ketika ponsel yang dipegangnya sedari tadi berdering. Ternyata
tamu tersebut Tyo. Tyo tau alamat indekostnya Nina dengan bertanya pada Lena.
Tyo juga tahu bahwa Nina dan Yute bersahabat. Oleh karena itu Tyo meminta
bantuan Nina untuk meminta maaf pada Yute. Hubungan Yute belom membaik sejak
minggu lalu, Tyo tidak bisa menjemputnya karena dia ada kegiatan dikampus.
“Nin,
aku kesini untuk meminta tolong kamu.”
“Minta
tolong apa Yo?” tanya Nina
“Aku
tahu dari Lena kalau kamu sahabatan sama Yute. Dan aku udah melakukan kesalahan
padanya. Aku ingin minta maaf sama dia” ungkap Tyo panjang lebar.
“Em..gitu
ya.. Tapi sepertinya dia udah enggak mau maafin kamu deh Yo” Nina mempengaruhi
Tyo.
“Masak
Yute kayak gitu? Aku tahu dia, bagaimana sifat dia”
“Beneran
Yo, dia pernah bilang ke aku, kalau dia udah enggak bakalan maafin kamu.”
Tampak
raut muka Tyo yang tak seperti biasanya. Wajah riangnya berubah menjadi tak
bergairah.
“Kamu
kenapa Yo?” tanya Nina sok khawatir.
“Aku
gapapa kok” jawabnya singkat.
“Yaudah
kita ke kafe yuk. Kita tenangin pikiran kamu dulu” Nina mengajak Tyo ke kafe
dimana dia biasa nongkrong dengan Yute dan dimana dulu Tyo bertemu dengan Yute
pertama kalinya. Seperti ada maksud tersembunyi yang coba disampaikan oleh Nina
sore itu.
Yute dan temannya Kiky, tengah asyik
menikmati indahnya Kota Malang di sore yang cerah. Mereka berdua terlihat asyik
mengobrol dan sesekali diikuti tawa renyah khas kedua teman tersebut. Tiba-tiba
Yute meliar sesosok cowok yang sangat dikenalnya. Cowok itu datang menggandeng
seorang cewek. Bukan. Ternyata si ceweklah yang menggandeng cowok tersebut. Dan
betapa terkejutnya Yute, ketika siapa yang dilihatnya itu. Ya, benar. Cowok itu
adalah Tyo, teman semasa kecil yang ditaksirnya diam-diam. Dan cewk itu adalah
Nina, sahabat karibnya sendiri yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Yute yang
sebelumnya terlihat riang, kini raut wajahnya berubah 180 derajat. Terlihat
genangan air mata yang siap mengalir deras di pipi halusnya. Dikumpulkannya
semua keberanian, didatangi dan digebraknya meja dimana Nina dan Tyo tengah
bermesraan.
“Kalian
jahat, kalian tega. Aku benci kalian” ujarnya penuh emosi.
Tak
banyak kata-kata yang mampu diucapkanYute. Butiran air mata yang dibendungnya
itu pun menetes dengan deras di pipi merahnya, diiringi suara petir menggelegar
menyentuh tanah yang bermandikan oleh air hujan. Kota Malang di guyur hujan
lebat, seakan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Yute saat ini.
Malang, 01 November 2013
Riski Permatasari